Telah banyak saya mendengar cerita mengenai orang-orang yang secara kebetulan meraih kesuksesan dari hal-hal yang secara tidak sengaja mereka lakukan dan kemudian menjadi karier. All men are created equal, paling tidak saat pertama kali dilahirkan. Kebanyakan orang juga akan menjalani masa-masa bersekolah seiring dengan proses perkembangan bak secara fisik maupun secara mental. Seperti anak-anak lain pada umumnya, Emil Halim pergi bersekolah dan belum tahu apa yang harus dilakukan dalam hidup.

Ia bersekolah dan ternyata nilai tertinggi yang ia dapatkan dari seluruh pelajaran adalah dari kelas Art and Design dan terpilih sebagai ketua klub fotografi saat bersekolah. Ia kemudian berpikir bahwa ia ingin melanjutkan studi ke fakultas Art Design. Emil kemudian meneruskan studi ke Chicago, AS dan meraih degree dari Visual Communication Design dan menjalani karier profesional sebagai seorang desainer grafis. Dari Windy City, ia pindah ke metropolitan New York untuk mengambil tawaran pekerjaan yang lebih baik dan memulai petualangan-petualangan baru. Di sinilah kisah Emil Halim memulai babak baru.

 

 

How did you get your start?
Setiap kali saya pergi, saya selalu berburu makanan yang lezat, dari jalanan, restoran, dan tempat-tempat lainnya, sehingga makanan telah menjadi bagian dari kehidupan karier saya selama ini. Terdapat jutaan restoran di NY. Tingga di kota itu sendiri telah mengilhami saya dengan segala culinary movement yang progresif, juga ide-ide brilian dan bakat-bakat luar biasa yang membentuknya. Untuk memuaskan keingintahuan serta passion saya terhadap makanan, saya bekerja paruh waktu di beberapa restoran di samping pekerjaan utama saya sebagai seorang desainer grafis profesional. Background saya di bidang desain, fotografi, dan gaya hidup membawa ide-ide menarik mengenai konsep restoran, desain, serta kualitas. Saya membawa pulang semua passion dan impian kemudian menyeimbangkannya dengan bisnis untuk memulai East 8 dan Open Door, menciptakan New York kecil di Singapura dan Indonesia. Nonetheless, saya juga ingin menginspirasi orang lain bahwa tidak pernah ada istilah terlambat untuk meraih impian.

Apa yang pertama kali menginspirasi atau membuat Anda tertarik dengan dunia kuliner?
Passion saya terhadap makanan yang tidak pernah terpuaskan dimulai sejak saya masih sangat kecil, terinspirasi dari membantu ibu memasak di rumah dan weekend fishing bersama paman. Keluarga dan makanan tidak dapat dipisahkan. Juga, tinggal di luar negeri selama beberapa tahun jauh dari keluarga memaksa saya untuk menjadi pribadi mandiri serta mendorong saya untuk mempelajari hal-hal baru. Saya mulai mengeksplorasiberbagai restoran besar dan kecil yang menyajikan hidangan berkualitas yang unik serta kreatif kemudian mencoba mengolah hidangan favorit di rumah dengan cara saya sendiri. Saya mengumpulkan resep-resep masakan, artikel mengenai wine, bumbu-bumbu langka, dan yes, menonton cooking show di TV dan membaca banyak buku, berusaha untuk terus meng-update apa saja yang terjadi di luar sana. Saya mengikuti beberapa kelas memasak dan saya sangat menikmatinya. Makanan dapat membuat saya merasa senang dan membuka suatu indra saya ke tingkatan yang lebih tinggi. Makanan mampu mengumpulkan orang-orang, saya suka memasak untuk keluarga dan teman-teman. Tinggal dan melakukan perjalanan di berbagai negara dari Timur hingga Barat, dikelilingi oleh teman-teman yang gemar menikmati makanan, kecintaan saya terhadap makanan tumbuh semakin besar dan saya menginginkan untuk memiliki usaha kuliner milik saya sendiri, dan kini seolah impian saya menjadi kenyataan.

 

 

Apa pencapaian profesional terbesar yang telah Anda raih? Bagaimana dengan kegagalan?
Saya memiliki tim kerja yang hebat dan mereka semua juga gembira. After all, restaurant is all about teamwork and bringing the best of everyone in it. Mengetahui bahwa semua yang terlibat di dalamnya bekerja keras akan memberi hasil yang sepadan, karena makanan yang kami sajikan akan membuat orang gembira dan kembali lagi. Biggest set back is…, saya sendiri tidak pernah menganggap kegagalan sebagai suatu dampak negatif, tetap bergerak ke depan, belajar dari kesalahan, mengambil sisi positif dari kegagalan tersebut dan berusaha untuk memperbaikinya.

Apa day-to-day responsibility Anda sebagai seorang pemilik restoran?
I do A-Z. Seperti seorang ayah di dalam sebuah keluarga. Mengurus segala macam hal dan harus mengetahui apapun yang sedang terjadi, juga memastikan semua berjalan dengan baik dan semua yang terlibat di dalamnya senang. Saya sering membuat checklist pada malam sebelumnya dan melakukan pekerjaan sesuai dengan daftar prioritas yang telah saya susun keesokan harinya. Saya mengurusi banyak hal di semua area restoran, mungkin Anda juga akan melihat saya memasak di dalam dapur di suatu hari. Yang paling penting adalah saya selalu ada untuk tim saya, ketika mereka sangat membutuhkan saya, saat ada yang perlu bantuan saya ada untuk memberikan dukungan dan berusaha menjaga agar tim tetap solid. Saya juga menyapa para langganan dan mengambil keputusan untuk memberikan solusi dari situasi yang tak terduga.

Hal yang paling Anda sukai dari peran Anda sebagai pemilik restoran…
Melakukan dan berbagi apa yang saya sukai. Merasa senang saat berkumpul dan bertemu dengan orang-orang yang passionate.

Yang tidak Anda sukai?
Ketika Anda menjadi seorang pemilik restoran, Anda seolah telah menikahinya dan menggunakan banyak waktu bersamanya. Saya suka meluangkan waktu bersama keluarga sehingga hari Minggu bagi saya sangatlah berharga.

Ada saran, tip, atau pengalaman yang ingin Anda bagikan untuk mereka yang ingin memulai bisnis kuliner?
Tidak ada istilah terlambat untuk meraih impian dan terus belajar. Ya, trial and error bisa jadi merupakan cara mahal untuk belajar, namun dengan melaluinya maka Anda akan menemukan inner strength yang sebelumnya Anda pikir tidak ada. Saya percaya bahwa skill dan uang itu perlu, namun passion dan semangat akan mendorong Anda menuju target, berikan juga sentuhan cinta. Tetap belajar dan selalu ingin tahu. Jadilah berbeda dan temukan identitas Anda yang sesungguhnya dari apa yang Anda lakukan. True passion can be seen with bare eyes.

 

 

Apa yang Anda masak untuk makanan Anda sendiri?
Sepotong daging berkualitas, dimasak dengan tingkat kematangan medium-rare, taburi dengan sea salt dan nikmati bersama segelas Cabernet Sauvignon, itulah guilty pleasure saya. Tentu saja itu bukan menu sehari-hari saya, untuk menu sehari-hari saya memasak menu sederhana dan saya juga menjaga agar tubuh tetap sehat dengan mengonsumsi makanan tinggi protein serta biji-bijian.

 

Teks: Maximillian Samuel Puji

Foto: Emil Halim

About The Author

Related Posts