Secara pribadi, pada awalnya saya mencibir pekerjaan yang dilakukan oleh blogger, entah food blogger, fashion blogger, atau penulis blog lainnya. Kemudian saya mulai ‘menghormati’ blogger dan karyanya  setelah seorang sahabat saya menulis sebuah blog mengenai kesehariannya. Seorang rekan kerja juga menulis sebuah blog yang menjadi referensi bagi saya mengenai tempat-tempat makan khususnya di Jakarta. Saya masih belum terkesan. Namun saya sungguh-sungguh berubah pikiran setelah menemukan beberapa blog yang ditulis dengan sangat cermat, mengungkapkan pikiran-pikiran jujur mengenai suasana, citarasa, dan berbagai pengalaman lain yang lebih dari sekadar memberikan informasi. Ditambah berbagai image yang diambil dari sudut-sudut menarik. Tidak semua orang bisa melakukan hal ini.

 

Salah satu food blogger terbaik, dan ia sangat terkenal, yang juga menjadi salah satu referensi utama saya dalam menentukan pilihan destinasi kuliner saya, termasuk sumber informasi yang diam-diam saya gunakan ketika beberapa relasi menanyakan rekomendasi tempat makan untuk menikmati beef terbaik atau hanya untuk menikmati sepotong cake dan secangkir kopi. Stanislaus Hans Danial Subianto, saya memanggilnya Hans, seorang mahasiswa semester akhir salah satu perguruan tinggi swasta di Tangerang Selatan. Blogging yang pada awalnya hanyalah sebuah hobby pada akhirnya juga memberikan penghasilan.

 

Ceritakan rutinitas Anda sehari-hari?

Mungkin banyak orang tidak percaya saya harus pergi tujuh hari dalam seminggu untuk bekerja dan meeting. Biasanya pada pagi hari saya melakukan photoshooting untuk beberapa produk yang di-endorse kepada saya. Siang hari saya melakukan meeting bersama restoran, hotel, atau shopping mall sekaligus bekerja – melakukan food review untuk blog dan majalah. Sore hingga malam, sambil menunggu kemacetan terurai, saya biasanya berada di sebuah coffee shop untuk menyelesaikan pekerjaan. Saya bekerja setiap hari namun saya mulai menghindari pekerjaan di weekend untuk mendapatkan quality time bagi saya sendiri.

 

Apa yang Anda lakukan sebagai seorang food blogger?

Basically sama seperti apa yang saya lakukan sejak pertama menulis blog: melakukan review restoran, namun sekarang saya menggunakan kamera yang lebih bagus dan berat badan saya meningkat 8 kilogram. Saya melakukan review dengan cara yang sangat-sangat personal, seperti menceritakan pengalaman secara jujur dan apa yang saya rasakan terhadap restoran-restoran tertentu. Saya membayar sendiri makanan yang saya makan di kurang-lebih 85 persen dari restoran-restoran yang saya review. Dalam menulis advertorial pun saya menekankan bahwa saya tidak menulis sugar-coated review. Ya, saya mempromosikan bisnis Anda, itu saja, dan untungnya klien-klien di Jakarta sangat terbuka mengenai hal ini.

  

Apa yang menginspirasi Anda untuk mulai menulis sebuah food blog?

Frankly speaking, saya tidak merasa terinspirasi oleh apapun, tidak memilih, dalam memulai semua ini. Tiba-tiba saja saya lakukan. Saya mengerjakan apa yang saya senangi dan tiba-tiba saya berada di dalamnya. Saya juga sangat gemar makan, suka memotret, dan suka menceritakannya kepada banyak orang. Banyak orang yang mengikuti blog saya dan saya tidak dapat mengontrolnya, namun hal itu membuat saya bersyukur.

 

Mengapa orang membaca blog Anda?

Menurut saya mereka lebih suka melihat foto-foto yang terdapat di dalamnya daripada membaca tulisannya (tertawa). Bukan itu, melainkan karena saya menulisnya dengan gaya yang sangat personal – bukan berarti blogger yang lain tidak demikian, saya memilih untuk jujur dan kadang terlalu jujur. Bersikap jujur dapat menyebabkan pro dan kontra namun saya ingin tetap seperti itu.

 

Apa yang lebih Anda sukai: dunia kuliner, menulis, atau fotografi?

Makan dan fotografi. Period!

 

Business and personal wise, apa keuntungan yang didapat dengan menulis sebuah food blog?

Banyak! Percayalah saya bukan refer ke keuntungan material saja, tetapi lebih ke peluang-peluang yang saya dapatkan. Those open doors sometimes could really make me feel like I am the luckiest person in the world! Saya pernah terpilih menjadi face untuk sebuah shopping mall. Saya ingin sekali pergi ke London di usia 35-40 kelak, setelah saya memiliki cukup uang yang saya hasilkan dari pekerjaan yang membosankan namun tahun lalu saya berkesempatan menghadiri sebuah event kuliner di sana dan dua bulan lalu juga, namun yang terakhir ini adalah untuk liburan. Saya bertemu dengan banyak orang yang saya pikir tidak mungkin berteman dengan mereka  sebelumnya, dan membangun relasi dengan mereka. Saya juga mampu membiayai kuliah adik saya! Hidup itu indah ketika Anda melakukan hal-hal yang baik dan bersikap positif terhadap lingkungan sekitar. Saya merasa diberkati.

 

 

How do you describe a good food?

Good food adalah sesuatu yang dapat dengan mudah membuat saya berteriak ‘wow’ begitu makanan tersebut menyentuh lidah saya. Makanan yang baik bagi saya harus mampu memberikan kejutan di dalam mulut, terus teringat di dalam pikiran saya, dan tidak merugikan kesehatan. Terutama jika makanan tersebut sederhana namun terasa nikmat, juga makanan-makanan lokal.

 

How do you describe a good restaurant?

Sebuah restoran yang baik harus mampu memenuhi keinginan dan kebutuhan costumer. Anda tidak akan pernah mampu membuat semua orang puas namun secara obyektif Anda harus melakukannya. Masak dengan baik, tunjukkan pelayanan yang mengagumkan, dan saya akan berjanji untuk datang kembali.

 

Apa food trend saat ini?

Kebanyakan didominasi oleh dessert unik namun menarik. Desserts are big in town at the moment.

 

Rencana selanjutnya setelah food blog

Membuat Youtube Channel dan menulis buku.

 

Teks: Maximillian Samuel Puji

Foto: Stanislaus Hans Danial Subianto